"EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN DARING DI MASA PANDEMI"
Robbi'atul Amelia
Saat ini Corona masih menjadi buah bibir
masyarakat. Dalam waktu singkat saja, namanya menjadi trending topik,
dibicarakan di sana-sini, dan diberitakan secara pasif di media cetak maupun
elektronik. Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-COV-2) yang
lebih dikenal dengan nama virus corona adalah jenis baru dari coronavirus yang
menyebabkan penyakit menular ke manusia.
Beberapa
pemerintah daerah memutuskan menerapkan kebijakan untuk meliburkan siswa dan
mulai menerapkan metode belajar dengan sistem daring (dalam jaringan) atau
online. Kebijakan pemerintah ini mulai efektif diberlakukan di beberapa wilayah
provinsi di Indonesia pada hari Senin, 16 Maret 2020 yang juga diikuti oleh
wilayah-wilayah provinsi lainnya. Hingga saat ini pembelajaran daring masih
diberlakukan disetiap sekolah.
Guru dapat melakukan pembelajaran bersama
diwaktu yang sama menggunakan grup di media sosial seperti WhatsApp (WA), Google
Clasroom, aplikasi Zoom ataupun media lainnya sebagai media pembelajaran.
Dengan demikian, guru dapat memastikan siswa mengikuti pembelajaran dalam waktu
yang bersamaan, meskipun di tempat yang berbeda.
Permasalahan yang terjadi bukan hanya terdapat
pada sistem media pembelajaran, akan tetapi ketersediaan kuota yang membutuhkan
biaya cukup tinggi harganya bagi siswa dan guru guna memfasilitasi kebutuhan
pembelajaran daring. Kuota yang dibeli untuk kebutuhan internet menjadi
melonjak dan banyak diantara orangtua siswa yang tidak siap bahkan mengeluh untuk
menambah anggaran dalam menyediakan jaringan internet.
Hal ini pun menjadi permasalahan yang sangat
penting bagi siswa, jam berapa mereka harus belajar dan bagaimana data (kuota)
yang mereka miliki, sedangkan orangtua mereka yang berpenghasilan rendah atau
dari kalangan menengah kebawah (kurang mampu). Hingga akhirnya hal seperti ini
dibebankan kepada orangtua siswa yang ingin anaknya tetap mengikuti
pembelajaran daring.
Pembelajaran daring tidak bisa lepas dari
jaringan internet. Koneksi jaringan internet menjadi salah satu kendala yang
dihadapi siswa yang tempat tinggalnya sulit untuk mengakses internet, apalagi
siswa tersebut tempat tinggalnya di daerah pedesaan, terpencil dan tertinggal.
Kalaupun ada yang menggunakan jaringan seluler terkadang jaringan yang tidak
stabil, karena letak geografis yang masih jauh dari jangkauan sinyal. Hal ini
juga menjadi permasalahan yang banyak terjadi pada siswa yang mengikuti
pembelajaran daring sehingga kurang optimal pelaksanaannya. Ramai diberbagai
media sosial yang menceritakan pengalaman orangtua siswa selama mendampingi
anak-anaknya belajar. Seperti misalnya ternyata ada orangtua yang sering
marah-marah karena anaknya yang sulit diatur sehingga mereka tidak tahan dan
menginginkan anak mereka belajar kembali di sekolah.
Solusi atas permasalahan ini adalah pemerintah
harus memberikan kebijakan dengan membuka gratis layanan aplikasi daring
bekerjasama dengan provider internet dan aplikasi untuk membantu proses
pembelajaran daring ini. Pemerintah juga harus mempersiapkan kurikulum dan
silabus pembelajaran berbasis daring.
Kegiatan belajar tatap muka dengan guru
terbukti lebih efektif ketimbang secara daring (online). Guru selamanya tidak
akan pernah tergantikan oleh teknologi. Kegiatan pembelajaran daring ini tidak
seefektif kegiatan pembelajaran konvensional (tatap muka langsung), karena
beberapa materi harus dijelaskan secara langsung dan lebih lengkap. Materi
yanag disampaikan belum tentu dapat dipahami semua siswa, system daring ini
hanya efektif untuk memberi penugasan saja, tidak untuk penyampaian materi.
Sehingga semakin banyak tugas yang diberikan, siswa semakin tidak paham dengan
materi yang disampaikan.
Dengan demikian guru dituntut mampu merancang
dan mendesain pembelajaran daring yang ringan dan efektif, dengan memanfaatkan
perangkat atau media daring yang tepat dan sesuai dengan materi yang diajarkan.
Hal yang paling sederhana yang dapat dilakukan oleh guru bisa dengan
memanfaatkan WhatsApp Group. Aplikasi WhatsApp cocok digunakan bagi pelajar
daring pemula, karena pengoperasiannya sangat simpel dan mudah diakses siswa.
Namun sekali lagi, pilihlah aplikasi yang
sesuai dengan kebutuhan guru dan siswa itu sendiri. Tidak semua aplikasi
pembelajaran daring bisa dipakai begitu saja, namun harus dipertimbangkan
sesuai kebutuhan guru dan siswa. Sangat tidak efektif jika guru mengajar dengan
menggunakan aplikasi zoom metting namun jaringan atau signal di wilayah siswa
tersebut tinggal tidaklah bagus.
Keberhasilan guru dalam melakukan pembelajaran
daring pada situasi pandemi Covid-19 ini adalah kemampuan guru dalam berinovasi
merancang, dan meramu materi, metode pembelajaran, dan aplikasi apa yang sesuai
dengan materi dan metode. Kreatifitas merupakan kunci sukses dari seorang guru
untuk dapat memotivasi siswanya tetap semangat dalam belajar secara daring
(online) dan tidak menjadi beban psikis.
Di samping itu, kesuksesan pembelajaran daring
selama masa Covid-19 ini tergantung pada kedisiplinan semua pihak. Oleh karena
itu, pihak sekolah/madrasah di sini perlu membuat skema dengan menyusun
manajemen yang baik dalam mengatur sistem pembelajaran daring. Hal ini
dilakukan dengan membuat jadwal yang sistematis, terstruktur dan simpel untuk
memudahkan komunikasi orang tua dengan sekolah agar putra-putrinya yang belajar
di rumah dapat terpantau secara efektif.
Dengan demikian, pembelajaran daring sebagai
solusi yang efektif dalam pembelajaran di rumah guna memutus mata rantai
penyebaran Covid-19, physical distancing (menjaga jarak aman) juga menjadi
pertimbangan dipilihnya pembelajaran tersebut. Kerjasama yang baik antara guru,
siswa, orangtua siswa dan pihak sekolah/madrasah menjadi faktor penentu agar
pembelajaran daring lebih efektif.
Semoga pandemi Covid-19 ini cepat berlalu
seiring dengan new normal yang telah diberlakukan oleh pemerintah. Sehingga
proses pembelajaran bisa terlaksana seperti semula dengan kehadiran guru dan
siswa yang saling berinteraksi langsung.
Aamiin Ya Rabbal’alamin